“Hehe, hebat juga kau bisa menghindar. Tapi itu cuma keberuntungan belaka,” ucap pria itu dengan senyum sarkastik. Dalam sekejap, ia melesat seperti kilat, berlari ke arah Lynx dengan senjata listrik di tangan, yakin sekali bahwa satu sentuhan saja cukup untuk membuat pemuda itu pingsan.

Lynx menatap penuh kagum saat melihat sosok itu bergerak begitu cepat, meninggalkan jejak bayangan biru di udara. Ia langsung teringat pada tokoh dari film yang mengenakan baju merah dan memiliki kekuatan petir.

Begitu pria itu tiba di hadapan Lynx dan mengulurkan tangannya untuk menyetrum, tubuh Lynx tiba-tiba lenyap dari pandangannya. Dalam sekejap, pemuda itu sudah berada di belakangnya.

Pria tersebut melompat refleks sambil membalikkan badan, tatapannya terkejut mengarah ke Lynx. "Bagaimana pemuda ini bisa muncul di belakangku? Komandan Vex tidak banyak memberi detail tentang mereka… hanya mengatakan mereka berbahaya dan metahuman, batinnya waspada."

“Tunggu! Kenapa kamu menyerang kami? Siapa kamu?” tanya Lynx, suaranya tegas namun mencari penjelasan.

Namun pria itu tak memberi jawaban. Ia kembali berlari dan kali ini bergerak cepat mengitari Lynx dan Leena, menciptakan jejak bayangan membentuk lingkaran energi yang berputar, sebuah medan khusus untuk mengunci targetnya dan mencari celah serangan.

Dalam hitungan detik, ia telah mengelilingi mereka ratusan kali, tapi tiap gerakan terasa percuma. Nalurinya mengatakan bahwa belum ada celah untuk menyerang.

Leena, yang mulai kehilangan kesabaran, mendecak kesal. Tanpa ragu, ia menjulurkan kaki dengan santai, dan pria itu tersandung, lalu terguling hebat sejauh beberapa meter, terdengar suara khas “BRUGGGH!” saat tubuhnya menghantam tanah.

“Huh, bikin kepalaku pusing saja. Apa dia nggak capek muter-muter nggak jelas begitu?” gerutunya, bersedekap sambil menggeleng.

Lynx tak bisa menahan tawa. Melihat ekspresi Leena yang kesal justru membuatnya tampak makin menggemaskan.

Leena menoleh dengan tatapan tajam, lalu tanpa peringatan mencubit pinggang Lynx.

“Aduh! Maaf! Maaf!” Lynx pura-pura menjerit kesakitan sambil tertawa. “Sungguh, ekspresi pria tadi itu lucu sekali!”

Leena menatap pria tersebut dengan serius. Dari kecepatan geraknya dan kerasnya suara benturan saat jatuh, ia memperkirakan pria itu kemungkinan besar mengalami patah tulang dan luka serius. Namun yang mengejutkan, pria itu justru bangkit kembali tanpa menunjukkan tanda-tanda cedera.

"Wanita ini... aku meremehkannya. Aku tidak menduga dia bisa bergerak di medan yang kubuat, bahkan menjatuhkanku. Kekuatan dan kecepatannya di luar perkiraanku," batin pria itu. Saat tadi berputar, ia terlalu fokus pada sasarannya, Lynx, hingga tak menyadari gerakan Leena. Dengan kecepatan yang ia miliki, seharusnya ia bisa membaca segalanya, tapi nyatanya ia bahkan tidak melihat dari mana serangan itu datang.

"Apakah sudah selesai permainanmu? Sekarang katakan apa tujuanmu menyerang kami?" tanya Lynx dengan nada serius.

Leena menambahkan, "Apakah kamu ingin membalas dendam untuk Elastok?"

Bukannya menjawab, pria tersebut tiba-tiba berlari ke arah berlawanan dengan sangat cepat.

"Tunggu!" teriak Leena, bersiap mengejar.

Namun Lynx tetap tenang. "Kita tunggu saja di sini. Aku merasa dia bukan melarikan diri, tapi sedang melakukan sesuatu. Aku bisa merasakan niat membunuhnya sangat kuat terhadap kita. Dia belum menyerah."

Tepat seperti dugaan Lynx, pria itu kembali melaju, kali ini jauh lebih cepat dari sebelumnya, sampai-sampai Leena tidak bisa lagi melihatnya. Rupanya, pria itu mengambil jarak untuk membangun kecepatan dan menciptakan momentum energi yang cukup kuat untuk menyerang.

Saat mendekati Lynx, pria itu langsung meluncurkan pukulan ke arah dada pemuda itu. Dalam hatinya, ia yakin serangan ini akan berhasil. "Bukankah Komandan Vex hanya menginginkan contoh sel genetiknya, jadi tidak perlu kutangkap hidup-hidup."

Tepat saat pukulannya hampir mengenai Lynx, pemuda itu hanya bergeser sedikit, lalu dengan santai mengangkat tangan kanannya dan menyentil dada pria tersebut.

DUAG!

Tubuh pria itu terlempar ke samping dan menabrak dinding bangunan dengan keras. Ia jatuh dan tak bisa bergerak sejenak. Namun kekuatannya mulai bekerja, memulihkan luka-luka yang ada. Perlahan, ia bangkit kembali dengan tatapan tidak percaya, menatap Lynx seolah belum mampu memahami apa yang baru saja terjadi.

Tiba-tiba saja dari langit terdengar suara bergemuruh. Sebuah pesawat tempur hitam pekat muncul di atas mereka, melayang diam tanpa suara. Di sisi badan pesawat tertulis mencolok, The Hunter, organisasi rahasia terdiri dari para metahuman dibawah pimpinan komandan Vex.

Tiga sosok terlihat melompat keluar dari lambung pesawat. Salah satunya melayang turun ke puncak gedung tinggi, lalu berlutut tenang sambil menyiapkan senjata jarak jauh berteknologi canggih. Rambutnya dikuncir ketat, wajahnya tersembunyi di balik visor transparan. Dialah Ratih, pembunuh jarak jauh yang dikenal tak pernah meleset.

Dua sosok lainnya mendarat ringan di dekat pria yang baru saja terlempar oleh Lynx. Mereka segera mengepung posisi Lynx dan Leena. Salah satu dari mereka, bertubuh besar dan tegap, memeriksa kondisi situasi dengan cepat, sementara yang lain memutar-mutar empat tentakel logam mengerikan yang menjulur dari punggungnya.

Mereka adalah Ockron dan Sandrage, anggota elit pembunuh bayaran The Hunter. Berbeda dengan Kanaya yang bekerja sendirian, Ockron dan Sandrage terbiasa bekerja sama dalam menjalankan misi.

Ockron memiliki tentakel logam berteknologi tinggi yang sangat kuat. Dengan kekuatan ini, dia bisa mencabik baja tebal, apalagi daging manusia. Sedangkan Sandrage, memiliki tubuh khusus, tubuhnya bisa berubah menjadi pasir, membesar, memadat jadi senjata, dan tahan serangan fisik.

"Kilat, kamu baik-baik saja? Kamu berangkat duluan tanpa menunggu kami. Aku kira kamu sudah bisa mengatasinya, tetapi aku lihat kamu kesulitan." tanya pria bertubuh besar itu, suaranya dalam dan mantap.

"Aku baik. Komandan Vex benar, mereka tangguh, terutama yang pria," jawab Kilat, lalu menatap ke arah Lynx dan Leena dengan tajam.

"Kalian berdua. Menyerahlah! Kami berada di bawah perintah langsung Komandan Vex," ujar si pria bertentakel. "Serahkan diri kalian. Kalian adalah ancaman besar bagi penduduk Bumi."

Lynx menatap tenang. "Aku tidak tahu siapa itu Komandan Vex. Aku hanya mencari seseorang. Setelah kutemukan, kami akan pergi."

Ketiganya saling berpandangan. Mereka sudah mendapatkan instruksi jelas untuk menangkap hidup atau mati. Terutama karena komandan Vex memerlukan pria bernama Lynx untuk penelitian.

"Ockron, Sandrage, tidak perlu banyak bicara. Kita Serang mereka bersama-sama." Kata Kilat dengan tatapan marah. Dia merasa sudah dipermalukan oleh Lynx dan Leena.

"Jika begitu, kami akan memaksamu!" teriak Ockron, sebelum melesat mengitari mereka, meninggalkan jejak cahaya kebiruan.

Leena segera maju ke depan. Pedangnya ditarik keluar dengan suara dingin.

"Aku yang akan melawan kalian."

Pertarungan pun meledak.

Leena menebas ke arah Sandrage, namun tubuh pria itu berubah menjadi pasir dan lolos dari serangan. Ia membalas dengan membentuk palu pasir raksasa dari lengannya dan mengayunkan ke arah Leena. Sementara itu, Ockron meluncurkan dua tentakel ke depan, menyerang Leena dari sisi berlawanan dengan kecepatan yang tidak kalah berbahaya.

Leena menghindar sambil terus menebas, tetapi gerakan Kilat mengganggunya. Pria itu bergerak begitu cepat hingga nyaris tak terlihat, sesekali muncul hanya untuk menyerang dari sudut buta lalu menghilang lagi. Serangan bertubi-tubi dari ketiga arah membuat Leena mulai kewalahan.

Setiap kali Leena berada dalam posisi berbahaya, Lynx turun tangan membantu dengan gerakan cepat tanpa terlihat.

Ratih dari atas gedung mulai menembak. Cahaya merah muncul dari senapannya tiap kali peluru energi ditembakkan. Namun meski arah tembakannya presisi, serangannya selalu gagal, Lynx sudah memposisikan diri agar peluru itu tidak pernah mengenai Leena.

Leena mengatur napas. Pakaian putihnya sobek di beberapa bagian, tapi matanya tetap tajam. Ia melompat tinggi, menendang Sandrage di wajah sebelum mendarat dan berputar memotong dua tentakel Ockron. Namun tentakel itu hanya terseret mundur dan kembali menyambung dengan suara denting logam.

Kilat kembali menyerang dengan kecepatan penuh, dan untuk pertama kalinya Leena tak sempat menghindar, sebuah tendangan mendarat di bahunya dan melemparkannya ke belakang.

Lynx tetap diam. Matanya menatap tajam ke arah ketiga lawan Leena.

Tidak lama, suara alat telekomunikasi Ockron aktif dan terdengar suara Ratih. "Ockron, jangan bermain-main. Komandan Vex sangat serius kali ini, dia juga mengirim Kanaya bersama para prajurit datang ke tempat ini. Cepat lumpuhkan sebelum mereka datang."

"Kanaya? Wanita yang kucari datang sendiri." Batin Lynx. Dengan kemampuannya, dia dapat mendengar dengan jelas suara alat komunikasi mereka.

